Sabtu, 03 Juli 2010

Hari yang seharusnya terisi sempurna

Hari ini seharusnya terisi dengan sempurna.
Pukul 08.30, aku sedang bersiap-siap untk melakukan aktivitas outdoorku. Deodoran, lotion, pelembab wajah, dan bedak dengan dosis secukupnya. Mengenakan kaus oblong berwarna kuning, dan jeans hitam panjang, lengkap dengan tas biru yang selalau setia menemaniku jalan. Kupandang cermin kecil berukuran 30x40cm yang tertempel di pintu lemariku, dan berkata pada benda peantul cahaya itu, " Aku siap mengisi hari berbahagia ini. Mengisi hari dimana aku bebas dari kegiatan meng-app benda-benda mati yang bernama baterai kyocera. mengisi hari dimana aku bebas dari istilah Target, NG, dan SORTING. Mengisi hari dimana tidak ada aturan kapan harus bekerja, kapan bisa ngobrol, kapan bisa istirahat. Mengisi hari dimana aku takkan menemui leader, teknisi, dan QC.


Rencana sudah tersusun rapi di kepalaku. Tinggal kupicu pelatuknya dengan langkah kakiku, maka peluru aktivitas siap menembaki setiap jam-jam merdekaku ini. Rencana yang berisi tiga trip perjalanan.


Trip 1. Ambil CH di B*t*vi* Medika*
Sejak aku tau apa itu Ch dan betapa mudah prosedurnya, aku tak bisa menghindar dari godaaan yang ditawarkan kertas kecil yang berukuran kira-kira 6x 9cm itu. Setiap bulan, setiap hari pertama aku kedatangan tamu merah yang tak diundang, setiap kali itu pula aku akan dengan antusias datang mengunjungi tempat yang bernama B*t*vi* Medik*. CH adalah toleransi Perusahaan mengingat mayoritas wanita setiap bulannya mengalami dismenrhoe eh dismenrrhoe apalah itu, terserah(padahal aku sama sekali tidak termasuk dalam mayoritas itu, *kedipkan sebelah mata*). Prosedurnya mudah dan cepat(bukanakah aku sudah mengatakannya?). Hanya datang, isi formulir, syukur-syukur kalau tidak harus antri, dengar nama dipanggil, pergi menjumpai dokternya, syukur-syukur kalau tidak diperiksa, dan kemudian menadahkan tangan menerima surat keterangan dokter. Uh, kalau surat itu sudah sampai di tanganku, maka terjaminlah ketenangan hatiku di hari yang berbahagia ini.


Trip 2. Pergi ke bank
Sudah lama aku ingin pergi ke bank, tapi berhubung aku masuk kerja pada shift normal, maka hal tersebut mustahil bisa dilakukan tanpa adanya istilah absen. Dan dengan adanya CH ini, maka itu bukanlah hal yang tidak mungkin lagi.
Punya dua rekening bank yang berbeda membuat hidup menjadi rumit. Punya dua nomer rekening, punya dua buah buku tabungan, punya dua keping kartu ATM, dan dua buah PIN yang harus selalu kuingat . PIN yang bertukar adalah resikonya yang rentan terjadi dan berujung ke Pemblokiran salah satu kartu ATMku. Dan hari ini aku melandas ke Bank Mandiri untuk mengurus pembukaan pemblokiran kartu ATMku itu.


Trip 3. Pergi ke Warnet
Komputer adalah kendaraanku untuk menjelajahi dunia luas nan maya dan lengkap yang bernama Internet. Berhubung belum punya komputer, maka aku mesti pergi ke terminal yang bernama Warnet. Menjelajahi internet adalah aktivitas yang akan dengan sangaaat senaaaang hatiiii jika aku disuruh untuk melakukannya. Menjelajahi dunia yang disatukan kabel-kabel RJ45, sinyal-sinyal wifi, yang saling tersalur di Switch, terpancar di Hotspot, yang dikodekan dengan karakter-karakter HTML, dan saling beredar dengan kombinasi kode-kode bit 0 dan 1. So, pergi ke warnet adalah aktivitas yang tidak mungkin kulewatkan saat memperoleh libur kerja.


Trip 4. Baca dan Beli(belum tentu) buku di Kharisma
Ada banyak buku yang kulalap dan kureferensi. mulai dari buku Sefryana sampai ke buku Windhi Puspitadewi. Mulai dari chick ke teen.Dan hari ini aku ingin menghabiskan sisa waktuku di toko buku satu-satunya yang ada di kawasan industrial yang bernama mukakuning ini(so sad). Aku selalu ingin menjadi sama seperti para pencipta fiksi itu, para pengolah ide, pengurai adegan, para penyusun alur-alur yang berlarian kesana kemari. Dan untuk itu, aku perlu karya mereka untuk bisa aku jadikan peraga belajarku, untuk menjadi seorang  *enulis(hanya saja aku selalu khawatir, yang aku akan kecewa, kalau kelak aku tidak bisa menjadi).








Ya...ya..ya. Tapi rencana tinggallah rencana. Melva demi mendengar News yang aku akan mengambil CH hari ini, dia berlari dari N5 lantai 2 nomor 4 ke N4 lantai 1 no 4, hanya mengenakan baju tidur dan celana pendek menjumpai aku. Kami tertawa bersama-sama mengetahui hari ini Line Kyocera harus berjalan tanpa dua personelnya. Tertawa mengingat betapa susahnya Leader nanti, mengingat susahnya teman yang lain akan mengerjakan job kami,  dan mengingat gampangnya kami membuang jam lembur kami. Tawa berhenti, dan Melva mengajakku untuk mengambil CH bersama-sama. Aku berpikir, dan  kemudian memberitahu kalau aku perlu mengerjakan rencanaku yang sudah tersusun sejak dua jam yang lalu. Dia berjanji akan menemaniku pergi ke bank, dan kemudian meminta aku untuk menemaninya ke rumah dukun patah tulang untuk menjenguk temannya yang sedang sakit. Entah kenapa kepalaku begitu mudahnya untuk dianggukkan, dan yah... rencana didaur ulang. Yang ada Melva menemaniku pergi ke bank, sesudah itu kami mengambil CH bersama, dan kemudian kami pergi ke rumah dukun patah tulang. Sedihnya ternyata rumah dukun patah itu tidak cukup eksentrik untuk bisa kukagumi. Hanya rumah yang berisi orang-orang yang kecelakaan, yang mengaduh kesakitan, dan tubuh-tubuh berbaring yang dipenuhi perban-perban dan bekas luka.Sedihnya, waktu liburku yang berharga harus kuhabiskan di tempat yang berbau minyak urut dan balsem, karena ternyata tidak ada angkot dan ojek yang lewat dari tempat itu. Tidak ada yang bisa membawaku pergi dari bangunan yang 75 persen berwarna hijau ini. So Sad..............tapi ga apa-apa asalkan bisa melihat Melva berbahagia dengan pasien kesayangannya itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar